Dalam banyak peristiwa, korban kecelakaan yang
parah terpaksa kehilangan anggota badannya karena diamputasi
lantaran ada sebagian kecil dari tulang yang hancur. Karena
itu, suatu kecelakaan dapat mengakibatkan pemendekan dan
perubahan bentuk lengan maupun kaki pascatraumatik pada
korban.
Pemendekan dan perubahan bentuk anggota badan juga banyak
dialami anak-anak yang baru dilahirkan dan menderita polio,
orang cebol dan tampak pendek saat berdiri, patologi pinggul
dan lutut, kaki bengkok keluar karena riketsia.
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
bidang bedah rekonstruksi ortopedi memberi harapan baru bagi
mereka. "Dengan teknologi Fitbone, anggota badan yang hancur
bisa diperbaiki dan dipanjangkan tanpa ada parutan dan tidak
melalui proses sangat menyakitkan," kata Dr Thirukumaran
Subramaniam, konsultan ahli bedah ortopedi dari Mahkota
Medical Centre Malaysia.
Selama ini kalangan kedokteran biasa menerapkan
osteogenesis peregangan, yakni proses pembedahan untuk
memperbaiki dan memanjangkan tulang. Dalam proses ini, tulang
dipatahkan lewat pembedahan, kedua ujung tulang dipisah agar
tumbuh tulang baru pada ruang yang ada. Pemanjangan hingga 7
sentimeter disarankan bagi setiap tulang. Kendati pernah ada
pemanjangan tulang hingga 12 sentimeter, biasanya ini tidak
dianjurkan karena mengakibatkan tekanan kuat pada badan. Kadar
pertumbuhan tulang tergantung kepada sejumlah faktor antara
lain, umur, disiplin, dan gaya hidup.
Menurut ensiklopedia Wikipedia, metode ini dikembangkan
pada tahun 1951 oleh Gavriel Ilizarov, seorang ahli ortopedik
Rusia. Prosesnya adalah tulang-tulang dan saluran-saluran yang
hancur dibuang dan meninggalkan ruang.
Bagian tulang atas dipatahkan jadi dua bagian dengan
gergaji luar. Kaki kemudian dipasang dengan rangka Ilizarov
yang menembus kulit, otot, dan tulang. Skru yang dipasangkan
pada tulang tengah diputar satu milimeter setiap hari agar
tisu tulang yang baru tumbuh dapat diregangkan sehingga secara
berangsur-angsur mengurangi ruang.
Pemanjangan satu milimeter per hari ini dinilai paling
optimal yang bisa dilakukan. Jika terlalu lambat, jaringan
lunak akan jadi keras sebelum siap mengalami proses
pemanjangan. "Kalau pemanjangan terlalu cepat, akan
meregangkan jaringan lunak sehingga akan berakibat terlalu
menyakitkan. Jarak antara tulang yang terlalu besar tidak akan
pernah dapat terisi penuh," kata Dr Thiru.
Setelah lubang ditutup, pasien akan meneruskan pemakaian
rangka sehingga tulang baru menjadi keras. Biasanya pasien
harus dirawat hingga 120 hari sebelum kaki boleh digunakan
lagi. "Teknik Ilizarov ini rentan terhadap infeksi.
Prosedurnya juga cukup menyakitkan, pasien akan merasa geli,
tidak nyaman, dan menimbulkan parut bedah yang tidak nyaman
dipandang," tuturnya.
Kemudian, muncul teknologi distraktor kinetik tulang
intramedular (ISKD). Metode ini memungkinkan pemanjangan
secara internal sehingga mengurangi risiko infeksi dan parut
bedah. Dengan teknik ini, sebatang pin bisa dipanjangkan
berangsur-angsur lewat putaran lutut atau mata kaki, lalu
diimplankan ke dalam tulang.
ISKD memerlukan pergerakan kaki untuk mengaktifkan
peralatan yang membuatnya cukup menyakitkan, terutama setelah
ada tindakan pembedahan. Risikonya, pasien kemungkinan terlalu
memanjangkan tulang tanpa sengaja yang bisa berakibat
pembentukan tulang yang salah. "Jadi, teknologi ini bisa
mencegah pembentukan tulang yang benar," kata Thru
menambahkan.
Fitbone atau metode pemanjangan anggota badan internal
telah menyempurnakan beberapa kelemahan metode ISKD. Semula,
teknologi ini dikembangkan di Jerman oleh Augustin Betz dan
Rainer Baumgart. Pembedahan dengan metode ini dilakukan
pertama kali pada tahun 1996, dan tekniknya dipatenkan pada
tahun 1997. Sampai kini, pembedahan dengan teknik ini
kebanyakan dilakukan di Munchen, Jerman, oleh Baumgart dan
Peter Thaller.
Namun, sejak tahun 2001 cara pembedahan ini juga
dilaksanakan di Rumah Sakit Tan Tock Seng, Singapura, oleh Dr
Sarbjit Singh dan di Rumah Sakit Bumrungrad, Bangkok,
Thailand, oleh Dr Sittiporn. Di Malaysia, pembedahan Fitbone
dilaksanakan untuk pertama kalinya pada Desember 2005 di
Mahkota Medical Center, Malaka oleh Thirukumaran Subramaniam
dan Jeyaratnam T Satkunasingam.
Secara elektronik
Fitbone merupakan peralatan pemanjangan anggota badan yang
dapat dipasang di dalam tubuh dan digerakkan secara
elektronik. Metode ini memungkinkan tulang-tulang yang hancur
disatukan dan diperpanjang, tulang-tulang yang melengkung pun
dapat diluruskan. Peralatannya terdiri dari sebuah antena yang
ditanamkan di bawah kulit, implan kuku baja teleskopik dan
transmiter frekuensi radio genggam.
Pemanjangan bagian kaki bawah dilakukan dengan insisi
sepanjang 2 sentimeter pada lutut pasien, dan bingkai (rimmer)
digunakan agar ada cukup ruang pada tulang untuk implan.
Tulang lalu dipatahkan sekitar 14 sentimeter di bawah lutut
dengan gergaji. Paku keluli tahan karat diregangkan dengan dua
skru. Bagian atas paku itu dipasang pada penerima radio di
bawah kulit.
Proses pemanjangan dikendalikan dengan menekan tombol pada
transmiter yang ditempatkan di dekat antena sehingga motor
terpasang akan memanjangkan implan kuku baja teleskopik
sebanyak satu milimeter per hari. Apabila kaki mencapai
panjang yang dikehendaki, pemanjangan akan dihentikan dan
tulang dibiarkan agar mengeras.
Peralatan pemanjang anggota badan itu dapat dikeluarkan
sekitar dua tahun setelah pembedahan. Sayangnya, proses
pembedahan tanpa parut ini sangat mahal harganya. Jika harga
peranti Ilizarov 4.000 dollar AS dan implan ISKD sekitar 8.500
dollar AS, harga peranti Fitbone mencapai 12.000 dollar AS,
belum termasuk biaya pembedahan.
Seusai pembedahan, penderita harus menjalani fisioterapi
yang terdiri dari senam perengangan dan menggunakan peranti
khusus. Tujuannya untuk menghindari kejang dan merangsang
otot, saraf, serta pembuluh darah agar tumbuh bersama dengan
tulang. Pasien sering diberikan analgesia untuk menahan sakit
dan bisa beristirahat sewaktu menjalani pemulihan.
Sejauh ini, metode Fitbone belum banyak dikenal dan dipakai
di Tanah Air. "Sebenarnya metode Fitbone ini lebih mudah dan
praktis dibandingkan dengan teknik bedah ortopedi lainnya.
Tetapi, teknik pembedahan ini membutuhkan biaya sangat mahal
sehingga tidak terjangkau masyarakat luas," kata Spesialis
Bedah Ortopedi Dr Mulyono Soedirman SpB SpBO FICS, Senin (4/9)
di Jakarta.
Selain harganya sangat mahal, lanjut Mulyono, pembedahan
dengan teknik Fitbone ini hanya bisa diterapkan pada bagian
tulang kecil seperti tulang kering dan sulit dilaksanakan
untuk memanjangkan bagian tulang besar seperti tulang paha.
"Fitbone bisa jadi alternatif tindakan pemanjangan anggota
badan di Indonesia di masa depan. Sebab, nantinya harga
peralatannya kemungkinan akan turun sehingga bisa terjangkau
pasien," tuturnya.
Namun, pembedahan ortopedi, termasuk teknik Fitbone, tidak
dianjurkan bagi orang yang ingin memanjangkan tulangnya
beberapa sentimeter demi memperindah penampilan (pembedahan
kosmetik). Sebab, pembedahan dilakukan dengan mematahkan
tulang, pasien harus menggunakan kursi roda selama setahun,
mengalami rasa sakit, dan harganya sangat mahal.
***
Penulis: Evy Rachmawati